Tahu Merasa

Saat itu saya sedang berusaha menemukan lirik yang pas untuk lagu Sirna Rasa. Ketika itu saya sedang merenung bahwa saya merasakan. Anda tahu, saya menemukan bahwa perasaan adalah substansi pokok manusia. Perasaan sama usianya dengan keturunan manusia, dan dari ini tumbuhlah segala macam bangsa manusia.

Perasaan, perasaan; iri hati, benci, bahagia, malu, marah, belas kasihan, putus asa, cinta, di atas semua perasaan adalah cinta!

Inilah bahan-bahan utama yang digunakan untuk menciptakan akhlak manusia, yang banyak sekali memperlihatkan pengaruhnya pada jaman baheula, dan sekarangpun tetap menggelombang dengan letusan-letusan yang dahsyat. Sebagaimana planet bumi yang tampak kokoh, mengandung api unggun yang berputar hebat di dalamnya ditutupi dengan kulit bumi yang tipis.

Demikian pula manusia, berkas-berkas perasaan yang berapi-api dan mendidih ditutupi oleh kulit tipis kebiasaan dan undang-undang. Inilah kenyataan.

Lalu saya pikir…, jika saya ingin membangun sebuah struktur yang luhur dan kuat, maka saya harus meletakkan bahan-bahan itu secara dalam di dalam gerak dan diam saya. Saya tidak akan bisa menentang sentimen dengan valuta asing. Dan saya tidak akan bisa melawan temperamen dengan ilmu kimia. Kenyataan itu, selama bumi beredar, tidak akan pernah diuji lagi.

Tenggang Rasa Tepa Selira

Undang-undang itu kuat. Kebiasaan, lebih kuat lagi. Tetapi kedua-duanya lebih menyerupai hasil daripada sebab. Kedua-duanya diciptakan oleh perasaan, dan, hanya dapat dipaksakan selagi masih ada perasaan di belakangnya.

Nyanyian suatu bangsa, gelak tawa, ratap tangis, musik, taman bunga, senja hari, topan, badai, semua ini adalah dasar-dasarnya yang sanggup membangun ataupun merobohkan pasar, pemerintahan, negara, agama, bahkan keyakinan.

Dengan demikian, bukankah saya tidak dapat memungkiri kekuatan dunia yang disebut dengan perasaan?!

Ya, saya tidak akan dapat maju dengan anggapan bahwa kekuatan nyata yang sesungguhnya dalam kehidupan manusia itu adalah emas, atau kalkulator, atau bahkan kebijakan!

Seharusnya saya tidak menciptakan inovasi berdasarkan pada mesin. Karena setiap inovasi yang bersifat mekanis —yang tidak berperikemanusiaan, tidak akan pernah memperoleh hasil yang unggul.
Inovasi di sini berarti perbaikan rasa persaudaraan antar manusia. Toko kecil umpamanya, ia punya penataan sendiri, demikian pula produk-produk yang dijualnya. Toko yang satu dingin, tinggi hati, acuh tak acuh, sedangkan toko yang lain baik hati, gembira dan santun. Tanyalah pada wanita yang suka berbelanja di toko yang baik hati itu, dengan mudah ia pasti dapat mengatakan letak susunan produk yang dijual di toko itu.

Inti daripada cara berjualan adalah merasakan apa yang dirasakan oleh pelanggan. Bukan hanya penempatan barang yang sempurna, bukan pula kecerdikan tawar menawar, dan juga bukan kepandaian berdebat, yang hanya akan menjauhkan simpati dari pelanggan.

Sama halnya dengan dunia pendidikan, murid mana bisa dididik apabila di awal ia tidak suka pada gurunya, dan tidak bangga pada almamaternya yang lantas membiarkan nama perguruannya terkubur? Apalagi, murid mana dapat diajak biar punya hasrat akan pengetahuan apabila ia membenci bacaannya, menghina penulis bukunya dan memandang perguruannya tak lebih dari satu tempat yang digembirakan dengan olahraga bela diri?
Anak didik, perasaan mereka harus dirasakan oleh tenaga didik, bukan ditindas, atau bahkan disia-siakan. “Aku tidak mau tenaga didik yang lagunya begitu!”

Lalu, apakah saya akan bisa membebaskan sebuah pendidikan dari orang-orang yang membangun sistim paksa itu?
Lalu, kapankah saya akan mengajarkan hidup, dan bukan mengajarkan mati?

Pemain Belakang itu Bernama Perasaan

Saya ingin tahu lebih dalam tentang perasaan ini. Karena, apakah ada soal kemanusiaan yang dapat dipecahkan tanpa melibatkan unsur yang satu ini?

Saya tidak menjunjung, apalagi merendahkan ini. Saya hanya berusaha menunjukkan bahwa ini adalah satu kebenaran yang jelas dan nyata. Kebenaran yang paling mudah untuk dilupakan. Kebenaran yang timbul sebelum kenyataan, juga sebelum pertimbangan apalagi pendapat. Jadi, sebelum hal-hal lainnya.

Seseorang tidak akan ada yang tahu di mana ia berada, pula tidak akan tahu dengan siapa ia bersama, tidak tahu pula dirinya sendiri sebelum ia menyadari kekuatan yang dahsyat ini, yang disebut rasa dan/atau perasaan.

Saya ingin tahu lebih dalam tentang perasaan ini. Karena apakah ada soal kemanusiaan yang dapat dipecahkan tanpa melibatkan unsur perasaan ini. Dan lagi, bukan merasa tahu. Bagaimana menurut Anda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s